Fastabiqul Khoirot

Headlines News :
Seutama utama Ibadah Ummatku, ialah Membaca Al-Qur'an (HR.Abu Nu'aim)

Total

Protected by Copyscape Online Plagiarism Software
Powered by Blogger.

Follow by Email

Khusnudzon Kepada Diri Sendiri

Husnuzzan (Berprasangka baik) kepada diri sendiri artinya senantiasa memandang positif (positive thingking) terhadap diri sendiri. Meyakini dan berusaha menggali segala potensi kebaikan yang ada dalam diri kita untuk kemudian memanfaatkan sebesar-besarnya untuk kehidupan.
Orang yang husnuzzan atau berbaik sangka terhadap diri sendiri, tetntu akan berperilaku terpuji terhadap dirinya sendiri, seperti percaya diri, gigih, berinisiatif, dan rela berkorban.

Khusnudzon Kepada Allah swt

Manusia adalah makhluk Allah yang paling mulia dibandingkan dengan makhluk lain, bahkan dengan malaikat sekalipun. Kemuliaan manusia nampak ketika Allah SWT berkehendak menciptakan Adam sebagai Khalifah-Nya di muka bumi dengan misi beribadah kepada-Nya. Kehendak Allah tersebut berdasarkan perencanaan yang sangat matang, sehingga ketika para malaikat mempertanyakan rencana Allah tersebut, Allah menjawabnya:

Iman Kepada Malaikat


Pernahkah kamu memperhatikan diri dan alam sekitarmu? Siapakah pencipta semua itu? Dialah Allah swt. pencipta alam beserta seluruh isinya. Dia menciptakan semua itu dengan kehendak dan kuasa-Nya. Oleh karena itu, kita harus meyakini, memahami, serta meneladani sifat-sifat Allah swt. khususnya yang terkandung dalam Asmaul Husna di dalam kehidupan kita.
Iman kepada Allah merupakan rukun iman yang pertama sekaligus sebagai pondasi dari rukun iman yang lain. Allah swt. adalah Zat yang Mahakuasa, yang menciptakan alam beserta seluruh isinya sekaligus sebagai penjaga dan pengatur alam jagat ini, yang tidak pernah merasa lelah, yang tidak pernah mengantuk, tidak pernah tidur, dan tidak merasa berat menjaga keduanya. Dialah Allah swt. yang memiliki sifat wajib, mustahil, dan jaiz sebagai sifat kesempurnaan-Nya.

Iman Kepada Malaikat


Pernahkah kamu memperhatikan diri dan alam sekitarmu? Siapakah pencipta semua itu? Dialah Allah swt. pencipta alam beserta seluruh isinya. Dia menciptakan semua itu dengan kehendak dan kuasa-Nya. Oleh karena itu, kita harus meyakini, memahami, serta meneladani sifat-sifat Allah swt. khususnya yang terkandung dalam Asmaul Husna di dalam kehidupan kita.
Iman kepada Allah merupakan rukun iman yang pertama sekaligus sebagai pondasi dari rukun iman yang lain. Allah swt. adalah Zat yang Mahakuasa, yang menciptakan alam beserta seluruh isinya sekaligus sebagai penjaga dan pengatur alam jagat ini, yang tidak pernah merasa lelah, yang tidak pernah mengantuk, tidak pernah tidur, dan tidak merasa berat menjaga keduanya. Dialah Allah swt. yang memiliki sifat wajib, mustahil, dan jaiz sebagai sifat kesempurnaan-Nya.

A.   Sifat-Sifat Allah SWT.
Allah swt. adalah Zat Maha Pencipta dan Pengatur seluruh alam beserta isinya. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dia tidak pernah mengantuk dan tidak pernah tidur. Dia tidak pernah merasa berat menjaga langit dan bumi beserta seluruh isinya. Allah swt. memiliki sifat wajib, mustahil, dan jaiz yang dimiliki-Nya sebagai kesempurnaan-Nya. Sifat wajib artinya sifat yang harus dimiliki oleh Allah sebagai sifat kesempurnaan-Nya karena Dia adalah segala-galanya. Hal ini tercermin pada sifat wajib yang 13 dan bila ditambah dengan sifat maknawiyah yang ada 7 buah akan menjadi 20. Adapun sifat mustahil adalah sifat yang tidak mungkin dimiliki oleh Allah. Sedangkan sifat jaiz, yaitu sifat wenang (bebas). Artinya, Allah bebas berbuat sesuai dengan kuasa dan kehendak­-Nya atau dengan kata lain, Allah boleh berbuat atau tidak berbuat sesuai dengan keinginan-Nya.

Asmaul Husna adalah nama-nama yang baik bagi Allah yang jumlahnya adalah 99 nama. Sebagai orang yang beriman, kita selalu dianjurkan untuk menyebut-Nya. Hal ini tertera dalam hadis yang menyebutkan tentang Asmaul Husna berbunyi sebagai berikut.
اِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ اِسْمَامَنْ حَفَظَهَادَخَلَ الْجَنَّةَ وَاِنَّ اللهَ وِتْرٌ وَيُحِبُّ الْوِتْرَ     (رواه ابن ماجه)

Artinya: Sesungguhnya Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama. Barang siapa menghapalnya (dengan meyakini kebenarannya) ia masuk surga. Sesungguhnya Allah Maha ganjil (tidak genap) dan senang sekali pada sesuatu yang ganjil." (HR Ibnu Majah).

Adapun sifat-sifat wajib dan sifat-sifat mustahil bagi Allah adalah sebagai berikut.
No
Sifat wajib
Artinya
Sifat mustahil
Artinya
1
Wujud
Ada     
Adam 
Tidak ada
2
Qidam
Terdahulu
Hudus 
Baru
3
Baqa   
Kekal  
Fana   
Lenyap
4
Mukhalafatuhu lil hawadis
Berbeda dengan yang baru
Mumasalatuhu lil hawadis
Serupa dengan yang baru
5
Qiyamuhu binafsih
Berdiri dengan sendiri-Nya
Ihtiyaju bigairih
Berhajat kepada yang lain
6
Wahdaniah     
Esa     
Ta’addud        
Berbilang/berjumlah
7
Qudrat
Berkuasa        
Ajzu    
Lemah
8
Iradat  
Berkehendak 
Karahah         
Terpaksa
9
I1mu   
Mengetahui    
Jahlun
Bodoh
10
Hayat 
Hidup  
Maut   
Mati
11
Sama 
Mendengar     
Summun        
Tuli
12
Basar
Melihat
Umyun           
Buta
13
Kalam 
Berfirman
Bukmun         
Bisu

Apabila sifat-sifat tersebut ditambah dengan sifat maknawiyah sebanyak tujuh sifat, maka akan menjadi 20, yaitu sebagai berikut.
No
Sifat Maknawiyah
Artinya
1
Qadiran          
Mahakuasa
2
Muridan          
Maha Berkehendak
3
Aliman
Maha Mengetahui
4
Hayyan          
Mahahidup
5
Sami'an          
Maha Mendengar
6
Basiran           
Maha Melihat
7
Mutakalliman 
Maha Berfirman

Selain sifat wajib dan mustahil tersebut, Allah juga mempunyai sifat jaiz yang artinya boleh (bebas). Maksudnya, Allah bebas berbuat sesuatu dan bebas pula tidak berbuat sesuatu sesuai dengan kehendak dan kuasa-Nya.

TUGAS
Sebutkan cara menghayati sifat Allah dalam kehidupan pribadimu! Buatlah dalam bentuk tabel!

B.   Sifat Allah dalam Asmaul Husna
Selain sifat kesempurnaan Allah swt. sebagaimana telah disebutkan, Allah juga mempunyai nama-nama baik yang jumlahnya 99. Sebagai orang yang beriman, kita dianjurkan untuk selalu menyebut-Nya. Firman Allah swt.


Artinya: Allah mempunyai Asmaul Husna (nama-nama yang agung sesuai dengan sifat-sifat Allah), maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama­-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (QS Al A’raf: 180).


RISALAH
Surah Al lkhlas merupakan sebuah surah dalam Al Quran yang berisi ketegasan dan kesaksian tauhid kepada Allah swt. Di dalamnya sifat keesaan Allah dan beberapa Asmaul Husna-Nya benar-benar menjadi titik sentral. Konsekuensinya adalah bahwa Allah tidak akan menerima dosa yang bernama syirik atau menyekutukan-Nya dengan sesuatu yang lain.
Rasulullah Saw bersabda.
اِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ اِسْمَامَنْ حَفَظَهَادَخَلَ الْجَنَّةَ وَاِنَّ اللهَ وِتْرٌ وَيُحِبُّ الْوِتْرَ     (رواه ابن ماجه)
Artinya: "Sesungguhnya Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama. Barangsiapa menghafalnya (dengan meyakini akan kebenarannya), is masuk surga. Sesungguhnya Allah itu Mahaganjil (tidak genap) dan senang sekali pada sesuatu yang ganjil."(HR Ibnu Majah).

Adapun Asmaul Husna sebagaimana difirmankan Allah swt. dalam Al Quran dan disabdakan oleh Rasullullah saw. jumlahnya ada 99, yaitu sebagai berikut.
No
Asmaul Husna
Artinya
Ayat Rujukan
1
Ar Rahman    
Maha Pemurah
(QS Al Fatihah: 3)
2
Ar Rahim
Maha Pengasih
(QS Al Fatihah: 3)
3
Al Malik
Maharaja
(QS Al Mu'minun: 116)
4
Al Quddus      
Mahasuci       
(QS Al Jumuah: 1)
5
As Salam       
Mahasejahtera           
(QS Al Hasyr: 23)
6
Al Mu'min       
Maha Terpercaya
(QS Al Hasyr: 23)
7
Al Muhaimin               
Maha Memelihara
(QS Al Hasyr: 23)
8
Al `Aziz           
Mahaperkasa
(QS Ali Imran: 62)
9
Al Jabbar                    
Kehendaknya Tak Dapat Diingkari
(QS Al Hasyr: 23)
10
Al Mutakabbir 
Memiliki Kebesaran
(QS Al Hasyr: 23)
11
Al Khaliq         
Maha Pencipta           
(QS Ar Ra'd: 16)
12
Al Bari'            
Mengadakan dari Tiada
(QS Al Hasyr: 24)
13
Al Musawwir  
Membuat Bentuk       
(QS Al Hasyr: 24)
14
Al Gaffar        
Maha Pengampun     
(QS Al Baqarah: 235)
15
Al Qahhar                   
Mahaperkasa
(QS Ar Ra'd: 16)
16
Al Wahhab     
Maha Pemberi           
(QS Ali Imran: 8)
17
Ar Razzaq                  
Maha Pemberi Rezeki
(QS Az Zariyat: 58)
18
Al Fattah                     
Maha membuka (hati)
(QS Saba: 26)
19
Al 'Alim           
Maha Mengetahui      
(QS Al Baqarah: 29)
20
Al Qabid         
Maha Pengendali       
(QS Al Baqarah: 245)
21
Al Basit           
Maha Melapangkan   
(QS Ar Ra'd: 35)
22
Al Khafid        
Maha Merendahkan  
(HR At Turmuzi)
23
Ar Rafi'           
Maha Meninggikan    
(QS Al An'am: 83)
24
Al Mu'iz          
Maha Terhormat        
(QS Ali Imran: 26)
25
Al Muzill          
Maha Menghinakan   
(QS Ali Imran: 26)
26
As Sami'         
Maha Mendengar      
(QS Al Isra: 1)
27
Al Basir           
Maha Melihat 
(QS Al Hadid: 4)
28
Al Hakam                   
Maha Memutuskan Hukum
(QS Al Mu'min: 48)
29
Al `Adl            
Maha adil
(QS AI An'am: 115)
30
Al Latif            
Maha lembut
(QS Al Mulk: 14)
30
Al Khabir        
Maha Mengetahui      
(QS Al An'am: 18)
32
Al Halim         
Maha Penyantun       
(QS Al Baqarah: 235)
33
Al `Azim                     
Maha agung
(QS Asy Syura: 4)
34
Al Gafur         
Maha Pengampun     
(QS Ali lmran: 89)
35
Asy Syakur                
Maha Menerima Syukur
(QS Fatir: 30)
36
Al `Aliyy                      
Maha tinggi
(QS An Nisa: 34)
37
Al Kabir                      
Maha besar
(QS Ar Ra'd: 9)
38
Al Hafiz          
Maha Penjaga
(QS Hud: 57)
39
Al Mugit          
Maha Pemelihara      
(QS An Nisa: 85)
40
Al Hasib                      
Maha Pembuat Perhitungan
(QS An Nisa: 6)
41
Al Jalil             
Maha luhur
(QS Ar Rahman: 27)
42
Al Karim                     
Maha mulia
(QS An Naml: 40)
43
Ar Raqib         
Maha Mengawasi      
(QS Al Ahzab: 52)
44
Al Mujib          
Maha Mengabulkan   
(QS Hud: 61)
45
Al Wasi'                      
Maha luas
(QS Al Baqarah: 268)
46
Al Hakim                    
Maha bijaksana
(QS Al An'am: 18)
47
Al Wadud       
Maha Mengasihi        
(QS Al Buruj: 14)
48
AI Majid                      
Maha mulia
(QS Al Buruj: 15)
49
Al Ba'is                       
Maha Membangkitkan
(QS Yasin: 52)
50
Asy Syahid     
Maha Menyaksikan   
(QS Al Maidah: 117)
51
Al Haqq                      
Maha benar
(QS Taha: 114)
52
Al Wakil          
Maha Pemelihara      
(QS Al An'am: 102)
53
Al Qawiyy                  
Maha kuat
(QS Al Anfal: 52)
54
Al Matin                      
Maha kokoh
(QS Az Zariyat: 58)
55
Al Waliyy        
Maha Melindungi       
(QS An Nisa: 45)
56
Al Hamid        
Maha Terpuji  
(QS An Nisa: 31)
57
Al Muhsi         
Maha Menghitung      
(QS Maryam: 94)
58
Al Mubdi         
Maha Memulai           
(QS AI Buruj: 13)
59
Al Mu'id                      
Maha Mengembalikan
(QS Ar Rum: 27)
60
Al Muhyi                     
Maha Menghidupkan
(QS Ar Rum: 50)
61
Al Mumit         
Maha Mematikan       
(QS Al Mu'min: 68)
62
Al Hayy                      
Maha hidup
(QS Taha: 111)
63
Al Qayyum                 
Maha mandiri
(QS Taha: 11)
64
Al Wajid          
Maha Menemukan    
(QS Ad Duha: 6-8)
65
Al Majid          
Maha Mulia
(QS hud: 73)
66
Al Ahad          
Maha Esa
(QS Al lkhlas: 1)
67
Al Wahid                     
Maha Tunggal
(QS Al Baqarah: 133)
68
As Samad      
Maha Dibutuhkan      
(QS Al Ikhlas: 2)
69
Al Qadir                      
Maha kuat
(QS Al Baqarah: 20)
70
Al Muqtadir     
Maha Berkuasa         
(QS Al Qamar: 42)
71
Al Mugaddim  
Maha Mendahulukan
(QS Qaf: 28)
72
Al Mu'akhkhir 
Maha Mengakhirkan  
(QS Ibrahim: 42)
73
Al Awwal        
Maha Permulaan       
(QS Al Hadid: 3)
74
Al Akhir                      
Maha akhir
(QS Al Hadid: 3)
75
Az Zahir                      
Maha nyata
(QS Al Hadid: 3)
76
Al Batin                       
Maha gaib
(QS Al Hadid: 3)
77
Al Wali
Maha Memerintah     
(QS Ar Ra'd: 11)
78
Al Muta'ali                  
Maha tinggi
(QS Ar Ra'd: 9)
79
Al Barr            
Maha dermawan
(QS At Tur: 28)
80
At Tawwab                 
Maha Penerima Tobat
(QS An Nisa: 16)
81
AI Muntagim  
Maha Penyiksa          
(QS As Sajadah: 22)
82
Al 'Afuww       
Maha Pemaaf
(QS An Nisa: 99)
83
Ar Rauf          
Maha Pengasih          
(QS Al Baqarah: 207)
84
Malik Al Mulk 
Maha Penguasa Kerajaan
(QS Ali Imran: 26)
85
Zul Jalal wa Al Ikram 
Maha Pemilik Keagungan dan Kemuliaan
(QS Ar Rahman: 27)
86
Al Mugsit                    
Maha adil
(QS An Nur: 47)
87
Al Jami'          
Maha Pengumpul      
(QS Saba: 26)
88
Al Ganiyy                   
Maha kaya
(QS Al Baqarah: 267)
89
Al Mugni         
Maha Mencukupi       
(QS An Najm: 48)
90
Al Mani'          
Maha Mencegah        
(HR At Turmuzi)
91
Ad Darr                      
Maha Pemberi Derita
(QS Al An'am: 17)
92
An Nafi'          
Maha Pemberi Keman-faatan
(QS Al Fath: 11)
93
An Nur
Maha Bercahaya       
(QS An Nu 35)
94
Al Hadi                       
Maha Pemberi Petunjuk
(QS Al Hajj: 54)
95
Al Badi'                       
Maha Pencipta
(QS AI Baqarah: 117)
96
Al Baqi            
Maha kekal
(QS Taha: 73)
97
Al Waris          
Maha Mewarisi          
(QS Al Hijr: 23)
98
Ar Rasyid                   
Maha pandai
(QS Al Jin: 10)
99
As Sabur                    
Maha sabar
(HR At Turmuzi)

1.    Ar Rahman
Sebagaimana dijelaskan dalam buku Menyingkap Tabir Ilahi karya M. Quraish Shihab, semua kata yang terdiri dari huruf ra, ha, dan mim, mengandung makna kelemahlembutan, kasih sayang, dan kehalusan. Akan tetapi, khusus untuk nama dan sifat Ar Rahman yang juga berakar sama dengan huruf-huruf tersebut tidak dapat disandang, kecuali hanya oleh Allah swt. Oleh karena itu, ada ayat Al Quran yang mengajak manusia menyembah-Nya dengan menggunakan kata Ar-Rahman sebagai ganti kata Allah atau menyebut kedua kata tersebut sejajar dan bersamaan, yaitu sebagai berikut:



 Artinya: "Katakanlah; Serulah Allah atau serulah Ar Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru. Dia memunyai Asmaul Husna nama-nama yang terbaik." (QS Al Isra: 110).

Berdasarkan ayat tersebut, Allah adalah satu-satunya yang paling berhak disembah. Dalam sebuah hadis qudsi dinyatakan bahwa Allah swt. berfirman yang artinya: "Aku adalah Ar Rahman, Aku menciptakan rahim, Kuambilkan untuknya nama yang berakar dari nama-Ku. Siapa yang menyambungnya (silaturahim) akan Kusambung (rahmat-Ku) untuknya dan siapa yang memutuskannya, Kuputuskan (rahmat-Ku baginya)." (HR Abu Daud dan At Turmuzi).
Muhammad Abduh berpendapat bahwa Ar Rahman adalah rahmat Tuhan yang sempurna, tetapi sifatnya sementara dan yang dicurahkan-Nya kepada semua makhluk, baik mukmin ataupun kafir. Akan tetapi, karena sementaranya itu, maka is hanya berupa rahmat di dunia saja dan tidak bersifat abadi. Rasulullah saw. memberikan sebuah ilustrasi melalui hadisnya menyangkut besarnya rahmat Allah yang artinya: "Allah swt. menjadikan rahmat itu seratus bagian, disimpan di sisi-Nya sembilan puluh sembilan dan diturunkan-Nya ke bumi ini satu bagian; yang satu bagian inilah yang dibagi pada seluruh makhluk, (yang tercermin antara lain) pada seekor binatang yang mengangkat kakinya dari anaknya terdorongoleh rahmat kasih sayang, khawatir jangan sampai menyakitinya." (HR Muslim).
Al Ghazali berpendapat bahwa buah yang dihasilkan seseorang yang dihasilkan oleh sifat rahman ini pada kehidupan seseorang, antara lain is akan menebarkan kasih sayang kepada sesamanya yang lengah dan lemah serta mengalihkan hal tersebut menuju jalan Allah. Ia pun tidak akan ragu mencurahkan kasih sayang tersebut kepada sesama manusia tanpa memandang perbedaan suku, ras, atau agama bahkan tingkat keimanannya serta memberi pula rahmat dan kasih sayang kepada makhluk-makhluk lain, baik yang hidup maupun yang mati.

2.    Ar Rahim
Ketika disebutkan kata rahim, pasti yang terlintas adalah ibu yang memiliki anak dan pikiran kita akan melayang pada kasih sayang yang dicurahkan sang Ibu kepada anaknya. Tetapi, jangan diduga bahwa sifat kasih sayang atau rahmat Tuhan akan sama dengan sifat rahmat ibu tersebut. Kita harus meyakini bahwa kasih sayang Tuhan tidak akan pernah sepadan dengan kasih sayang ibu. Allah adalah wujud yang tidak dapat dipersamakan, baik dalam zat, sifat, dan perbuatan-Nya dengan apa pun. Rahmat kasih sayang Allah tidak terhingga (QS Al Araf 156) dan dalam sebuah hadis qudsi dinyatakan bahwa Allah swt. berfirman yang artinya, "Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan amarah-Ku." (HR Bukhari dan Muslim).
At Rahim artinya adalah Maha Pengasih dan nama ini terdapat dalam Al Quran Surah Al Fatihah Ayat 3 sebagaimana pula nama At Rahman. Sebagai mukmin kita menyebut nama ini beberapa kali, khususnya pada saat salat. Melalui pemahaman akan sifat ini, kita dianjurkan untuk mencontoh sifat Allah tersebut untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Hanya saja sifat At Rahim Allah sudah tentu dalam kapasitas dan substansi yang jauh lebih sempurna dari sifat manusia.
Silaturahim adalah hubungan kasih sayang. Rahim juga berarti peranakan (kandungan) yang melahirkan kasih sayang. Kerabat pun dinamakan rahim karena kasih sayang yang terjalin di antara anggota-anggotanya. Menurut Muhammad Abduh, kata rahim yang polanya menunjukkan kemantapan dan kesinambungan, menunjuk kepada sifat zat Allah atau menunjukkan kepada kesinambungan dan kemantapan nikmat-Nya. Kemantapan dan kesinambungan hanya dapat terwujud di akhirat kelak. Di sisi lain, rahmat ukhrawi hanya diraih oleh orang yang taat dan bertakwa sebagaimana diungkapkan dalam ayat berikut ini.

 

Artinya: "Katakanlah: Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang balk? Katakanlah: Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui." (QS Al Araf: 32).

3.    As Sahur
Arti dari As Sabur adalah Maha Penyabar. Seseorang yang menahan gejolak hatinya dinamakan sabar. Ada yang memahami sifat ini dalam arti melimpahkan kemampuan bersabar ke hati hamba­hamba-Nya. Kemampuan bersabar bagi manusia memang diakui oleh para pakar ilmu jiwa. Salah seorang di antaranya adalah Freud yang menyatakan bahwa manusia memiliki kemampuan memikul sesuatu yang tidak disenanginya dan mendapat kenikmatan di balik itu.
Sifat sabar yang dimiliki Allah swt. harus kita contoh dan kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Imam Ghazali mengartikan kata As Sabur sebagai sikap yang tidak terdorong oleh ketergesaan sehingga bergegas melakukan sesuatu sebelum waktunya, tetapi meletakkan sesuatu dengan kadar tertentu dan memberlakukannya dengan aturan-aturan tertentu pula.
Uraian Al Quran tentang sabar adalah kebajikan dan kedudukan tertinggi yang diperoleh seseorang karena kesabarannya. Firman Allah dalam Al Quran.

 

Artinya: "Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS Az Zumar: 10).

 

 Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS Al Baqarah: 153).

Semua ganjaran amal ditetapkan Allah kadarnya, kecuali ganjaran kesabaran sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat tersebut. Oleh karena itu, puasa yang inti pelaksanaannya adalah sabar dinyatakan oleh Allah melalui hadis qudsi "Puasa adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang yang akan memberi (menetapkan ganjaran bagi pelakunya." Sabar memang selalu pahit awalnya, namun akan berbuah manis pada akhirnya. Hanya sekali Allah memberi kebebasan manusia untuk bersabar atau tidak, yaitu ketika orang-orang durhaka dipersilakan masuk ke neraka (QS At Tur: 16). Manusia yang meneladani sifat ini, dituntut untuk melaksanakan petunjuk Allah tersebut dalam menjalani kesabaran sambil juga tetap menghayati makna As Sabur sehingga dapat dilakukan sekuat kemampuan.

4.    Al Bar  
Allah bersifat Al. Barr dipahami bahwa Allah memberikan aneka anugerah untuk kemaslahatan makhluk-Nya. Anugerah Allah sangat luas yang tidak terbilang atau tidak terhingga. Firman Allah swt.

Artinya: "Sesungguhnya kami dahulu menyembah-Nya. Sesungguhnya Dialah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang." (QS At Tur: 28).

Ada pula yang memahami bahwa Allah senantiasa menepati janji dan Dia selalu menghendaki kebaikan untuk hamba-hamba-Nya serta kemudahan buat mereka (QS Al Baqarah: 185). Aneka anugerah diberikan Allah semata-mata atas dasar kasih sayang-Nya. Adapun manusia kadang memberi kebaikan atau melakukan sesuatu atas dasar pamrih atau ingin mendapatkan manfaat tertentu dari hal tersebut. Seorang hamba yang meneladani sifat ini hendaknya selalu mendasari sesuatu dengan maksud yang balk dan memberikan hal-hal yang bermanfaat kepada manusia atau makhluk Allah yang lainnya. kita pun harus senantiasa ingat bahwa Allah tidak menghendaki kesukaran bagi kita dan pasti akan menepati janji-Nya.

5.    Asy Syakur
Asy Syakur diartikan sebagai Allah yang mengembangkan dari amalan hamba-hamba-Nya meskipun sedikit dan melipatgandakan ganjarannya (QS Al Baqarah: 261). Manusia wajib bersyukur atas segala karunia yang diberikan Allah kepada kits. Firman Allah berkaitan dengan syukur ini, antara lain sebagai berikut:

 

Artinya: "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS Ibrahim: 7).

Makna dan kapasitas Syakur Allah dan manusia pasti berbeda. Pada hakikatnya, setiap pekerjaan atau sesuatu yang baik lahir di alam ini adalah atas izin Allah semata. Apa yang balk dari did kita pun berasal dari Allah semata. Oleh karena itu, pujian apa pun yang kita sampaikan kepada siapa pun, akhirnya akan kembali pada Allah juga. Itulah sebabnya kita diajarkan untuk mengucapkan hamdalah apabila kita bersyukur atas nikmat-Nya.
6.    Al Adil (Maha adil)
Pengertian adil secara umum adalah meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Menurut pengertian Islam, adil adalah menentukan suatu hukum berlandaskan kebenaran. Keadilan Allah adalah keadilan yang hakiki dart berlaku bagi seluruh hamba-Nya. Firman Allah swt.


Artinya: “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa berbuat jahat, maka (dosanya) atas dirinya sendiri dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-Nya" (QS Fussilat: 46). 








Berdasarkan ayat tersebut, Allah menentukan hukuman dan pahala sesuai dengan keadilan-Nya. Oleh karena itu, agar tidak terjadi kezaliman dalam kehidupan hamba-Nya, Allah memerintahkan kepada manusia supaya berbuat adil terhadap sesamanya. Firman Allah swt.


Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.     (QS. An Nahl: 90)

7.    Al Gaffar (Maha Pengampun)
Manusia dalam hidupnya selalu mengalami tarik menarik antara perbuatan dan buruk. Menurut Islam, perbuatan baik adalah perbuatan yang sesuai dengan ketentuan agama. Jika menyimpang, maka perbuatan itu termasuk perbuatan tidak baik dan berdosa. Dosa ada yang kecil dan ada yang besar. Akan tetapi, barang siapa yang berdosa dan selama ia bertobat serta tidak akan mengulangi perbuatan buruknya, maka ia akan diampuni oleh Allah karena Dia Maha Pengampun.

Firman Allah SWT.



Artinya : Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. ( QS. Sad : 66)

a.    Tauhid dalam ibadah dan doa, yaitu dengan hanya menyembah     dan memohon kepada Allah SWT.
b.    Tauhid dalam dakwah dan pendidikan karena hanya Allah yang kuasa membukakan pintu hati dan akal pikiran manusia.
c.    Tauhid dalam berekonomi, yaitu bahwa hanya Allah yang mampu membukakan pintu rezeki umat manusia.
d.    Tauhid dalam manfaat, yaitu bahwa Allah kuasa memahami manfaat dan keberhasilan pada diri manusia serta mencabutnya.
e.    Tauhid dalam mudarat, yaitu hanya Allah yang mampu mendatangkan dan menghilangkan bencana, petaka dan musibah.
f.     Tauhid dalam ucapan, yaitu bismillah, alhamdulillah, insya Allah, dan lain-lain.

8.    Al Hakim (Mahabijaksana)
Semua makhluk yang diciptakan Allah tidak ada yang sia-sia karena satu dengan yang lainnya selalu terkait dan Baling membutuhkan. Semuanya itu berdasarkan kebijaksanaan Allah. Demikian pula ketika Allah menentukan suatu perintah kepada manusia. Apabila dalam keadaan yang sulit, Allah memberikan keringanan, tetapi bila keadaan sudah biasa, maka keringanan itu kembali seperti semula. Firman Allah SWT.

 

 Artinya: "Dan Dialah Tuhan (yang disembah) di langit dan Tuhan (yang disembah) di bumi dan Dialah Yang Maha bijaksana lagi Maha Mengetahui. " (QS Az Zukhruf : 84).

9.    Al Maliku (Maha Merajai)
Allah-lah yang merajai seluruh alam semesta. Artinya, kekuasaan Allah tidak ada batasnya. Dengan kekuasaan itu, Allah mengatur dan memimpin makhluk-Nya yang dilandasi sifat kesempurnaan­-Nya serta tidak ada satu pun yang terlepas dari kemahakuasaan-Nya. Firman Allah SWT.

 


Artinya: 'Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenarnya, tidak ada Tuhan selain Dia. Tuhan (yang memunyai) Arsy yang mulia. " (QS Al Mukminun: 116).

10.  Al Hasib (Maha Menghitung)
Allah menciptakan alam semesta beserta isinya berdasarkan perhitungan yang teliti dan tepat. Artinya, segala sesuatu tercipta sesuai dengan kadarnya masing-masing. Demikian pula dengan perhitungan amal manusia selama hidup di dunia. Baik atau buruknya amal tersebut akan mendapat balasan seadil-adilnya di akhirat kelak karena tidak ada kesulitan bagi Allah untuk menghitungnya. Firman Allah SWT.

 

 Artinya: “Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa).  Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (QS An Nisa: 86).

Beriman kepada Allah swt. dengan sifat dan asma-Nya harus dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Demikian pula ketika kita berdoa, hendaknya terlebih dahulu menyebut asma-Nya (lihat QS Al A'raf 180).



C.   Tanda Penghayatan Iman Kepada Allah
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia harus mencontoh dan mengamalkan sifat-sifat Allah yang tertera dalam Asmaul Husna sebagaimana sudah disebutkan. Agar manusia dapat melaksanakan hal tersebut, manusia harus menundukkan dan menjinakkan hawa nafsunya. Mengenai hawa nafsu, Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an.


Artinya: "Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhan-ku. Sesungguhnya Tuhan-ku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS Yusuf: 53).

Imam Ghazali juga menyatakan bahwa hawa nafsu lebih berbahaya bagi manusia daripada setan. Jika manusia mampu menundukkan hawa nafsunya, maka is mampu menundukkan setan karena setan menggunakan hawa nafsu manusia untuk menjerumuskan dirinya sendiri.
Orang yang benar-benar menghayati terhadap iman kepada Allah, tentu dia memiliki tanda sebagai cermin penghayatannya tersebut. Ada pun tanda-tandanya, antara lain sebagai berikut :
1.    Rajin beribadah, baik ibadah mahdah maupun gairu mahdah.
2.    Berbudi luhur dan memiliki sopan santun, baik dalam perbuatan maupun perkataannya.

Rasulullah saw. bersabda sebagai berikut.
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَلَ رَسُوْلُ اللهِ صلعم مَنْ كَانَ يُؤْ مِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلاَخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْلاَخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلاَخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا اَوْلِيَصْمُتْ (رواه البخارى)

Artinya: "Barang siapa beriman kepada Allah maupun hari akhir, janganlah menyakiti tetangganya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan bari akhir, hendaklah memuliakan para tamunya, dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah is berkata baik atau diam saja." (HR Bukhari).

3.    Bersifat sabar, tabah, dan tawakal.
4.    Bersyukur atas nikmat dari Allah SWT.
5.    Tidak cepat putus asa dalam menghadapi cobaan dan ujian dari Allah SWT.
6.    Yakin akan keadilan Allah karena setiap perbuatan pasti akan ada balasannya yang setimpal.
  
D.   Hikmah Beriman kepada Allah
Beriman kepada Allah mengandung banyak hikmah, antara lain sebagai berikut.
1.    Akan mengingatkan kita untuk bersikap tawadu atau rendah hati dan tidak sombong. Dirinya akan menyadari bahwa sebagai makhluk yang lemah, is tidak ada artinya di hadapan Allah SWT.
2.    Akan melatih istikamah dalam kebenaran. Berani mengatakan benar jika memang itu benar dan berani mengatakan salah jika itu memang salah.
3.    Memupuk sifat qanaah atau menerima dengan ikhlas semua pemberian Allah setelah berusaha dan berdoa.
4.    Tidak cepat putus asa dalam menghadapi persoalan, dia sadar bahwa putus asa adalah sifat orang yang kafir.
5.    Ia akan mampu menerima kritik atau saran yang konstruktif.

6.    Bersyukur atas nikmat pemberian Allah dan bersabar apabila ia mendapat cobaan.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. INTISARI QUR'AN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger